Tikus Tanah Telanjang Memberi Petunjuk Penghilangan Rasa Sakit

mg_6457

Dalam gundukan sempit yang ramai di dunia tikus tanah telanjang Afrika, karbon dioksida menumpuk hingga tingkat yang beracun bagi mamalia lain, dan udara menjadi sangat asam. Hewan ini dengan bebas hidup dalam kondisi tidak nyaman ini, kata  Thomas Park, professor ilmu biologi di UIC dan penyelidik utama studi ini – yang dapat memberi petunjuk cara menghilangkan rasa sakit pada hewan lain dan manusia.

Sebagian besar rasa sakit setelah cedera, misalnya, disebabkan oleh pengasaman jaringan yang cedera, kata Park.

“Pengasaman tidak dapat dihindari sebagai efek samping cedera,” katanya. “Mempelajari hewan yang tidak merasakan sakit dalam lingkungan asam mestinya memberi kita cara baru menghilangkan rasa sakit pada manusia.”

Di hidung mamalia, serabut syaraf khusus diaktifkan oleh uap asam, merangsang inti trigeminal, sekumpulan syaraf di batang otak, yang kemudian memunculkan respon fisiologis dan perilaku yang melindungi hewan tersebut – ia akan mengeluarkan lendir dan menggosok hidungnya, misalnya, dan menghindari atau menjauhi uap asam.

Para peneliti menempatkan tikus tanah telanjang dalam sebuah sistem kandang dimana beberapa daerahnya mengandung udara uap asam. Hewan ini dibolehkan bergerak bebas, dan waktu yang mereka habiskan di tiap daerah dicatat. Perilaku mereka dibandingkan dengan tikus lab dan spesies tikus tanah lain yang hidup di kondisi biasa, sebagai kontrol eksperimental.

Tikus tanah telanjang menghabiskan waktu yang sama banyak di wilayah uap asam seperti di wilayah bebas uap, kata Park. Tiap spesies kontrol menghindari uap.

Para peneliti mampu mengkuantifikasi respon fisiologi pada paparan uap asam dengan mengukur sebuah protein, c-Fos, penanda tidak langsung aktivitas syaraf yang sering diekspresikan ketika sel syaraf menembak. Pada tikus tanah telanjang, tidak ada aktivitas tersebut di inti trigeminal ketika ia dirangsang. Pada tikus biasa, inti trigeminal sangat aktif.

Toleransi tikus tanah telanjang pada uap asam konsisten dengan adaptasinya untuk hidup di bawah tanah dalam kondisi asam kronis, kata Park.

Studi ini didukung oleh dana dari National Science Foundation. Pamela LaVinka, mahasiswa pasca sarjana ilmu biologi UIC, adalah pengarang perdana studi ini.

Sumber berita:

University of Illinois at Chicago.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

tolong di isi

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>